Polemik dan Inti Perspektivisme Nietzsche

  • Yulius Tandyanto Alumnus Program Magister Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta

Abstract

Abstrak: Nietzsche menegaskan bahwa perspektivisme adalah suatu kondisi dasar manusia di hadapan realitas. Dari gagasan tersebut sekurang-kurangnya muncul dua pendekatan utama. Di satu sisi, kalangan Nietzsche analitik-naturalis cenderung memposisikan perspektivisme sebagai teori pengetahuan belaka. Di sisi lain, kelompok Nietzsche Baru hanya memprioritaskan perspektivisme sebagai metode genealogis psiko-fisiologis yang tidak ada sangkut pautnya dengan realitas sebagaimana adanya. Menurut penulis, kedua pendekatan tersebut sesungguhnya tidak memadai dan mengaburkan inti perspektivisme Nietzsche, yakni sebagai seni penyelubungan yang senantiasa berkaitan dengan tipe manusianya. Dalam hal ini, penulis merujuk pada aforisme The Gay Science 354 untuk memperlihatkan bahwa perspektivisme merupakan seni penyelubungan yang dangkal, sadar, dan berfungsi untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia. Kendati demikian, Nietzsche tidak serta-merta membuang perspektivisme. Sebaliknya, Nietzsche menggarisbawahi bahwa perspektivisme sudah selalu mencakup ketegangan antara kesadaran dan insting manusianya di hadapan realitas seada-adanya. Persis di situlah terletak kekuatan dan kewaspadaan sang filsuf masa depan (moral tuan) untuk melawan segala pengetahuan yang dogmatis tentang realitas. Nietzsche menunjukkan bahwa moral tuan pada dasarnya memiliki sikap penuh hormat di hadapan realitas yang kaotis dan enigmatis. Dalam konteks itulah kebenaran moral tuan merupakan kreativitas artistik yang memperlihatkan sikap mawas diri di hadapan realitas seada-adanya.


Kata-kata Kunci: Friedrich Nietzsche, perspektivisme, pendekatan analitis-naturalis, Nietzsche Baru, seni penyelubungan, kesadaran, insting, kebutuhan akan komunikasi, moral tuan, realitas seada-adanya, kebenaran.


Abstract: Nietzsche asserts that perspectivism is a basic human condition before the reality. From this idea at least two main approaches emerge. On the one hand, analytic-naturalists Nietzsche tends to pose perspectivism only as a theory of knowledge. On the other hand, the New Nietzsche prioritizes perspectivism only as a psycho-physiological genealogical method that has nothing to do with the reality as it is. In this article, I propose that both approaches are inadequate and tend to obscure the essence of Nietzsches perspectivism, namely as the art of dissimulation which is always related to its human being type. In this case, I refer to the aphorisms of The Gay Science 354 to show that perspectivism is a superficial, conscious, and has its function for the survival of human life. Nevertheless, Nietzsche does not necessarily remove perspectivism. In contrast, Nietzsche underlines that perspective has always included the tension between consciousness and its human instinct in the face of reality as such. There lies the power and alertness of the philosopher of the future (master morality) to resist all the dogmatic knowledge about reality. Nietzsche points out that master morality basically being respectful in the presence of the chaotic and enigmatic reality. In that context master moralitys truth is an artistic creativity that shows a self-awareness before the reality it is.


Keywords: Friedrich Nietzsche, perspectivism, analytic-naturalistic approach, New Nietzsche, art of dissimulation, consciousness, instinct, need to communicate, master morality, reality as it is, truth.


E-mail: yulius.tandyanto@gmail.com.

Published
Dec 20, 2017
How to Cite
TANDYANTO, Yulius. Polemik dan Inti Perspektivisme Nietzsche. DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA, [S.l.], v. 16, n. 2, p. 188-219, dec. 2017. ISSN 2580-1686. Available at: <http://journal.stfdriyarkara-diskursus.ac.id/index.php/dis/article/view/62>. Date accessed: 20 sep. 2018. doi: http://dx.doi.org/10.26551/diskursus.v16i2.62.